Sabtu, 13 Oktober 2018

DIA


Aku termenung di sini, di tempat yang begitu ramai. Aku termenung disini, sendiri. Berpikir bahwa mungkin memang ini saatnya. Saat yang tepat untuk melupakan semuanya. Melupakan suatu hal yang membuat ku menjadi kacau. Melupakan suatu hal yang tidak pernah sekalipun memikirkan perasaanku. Melupakan suatu hal yang memang sudah seharusnya ku relakan. Tapi sekali lagi aku berpikir, "kenapa harus aku lupakan? Kenapa harus ku relakan? Sudah cukupkah semua ini? Mengalah terhadap keadaan? Atau mengalah terhadap seseorang yang memang tidak pantas dengannya?"

"Tapi, darimana kau tahu kalau seseorang itu tidak pantas dengannya? Memangnya kau pikir kau ini siapa? Kau Tuhan? Lalu apa yang membuat kau semakin yakin kalau seseorang itu memang tidak pantas dengannya? Hanya menerka nerka saja bukan? Lain kali, jangan pernah sotau menjadi makhluk Tuhan, jangan pernah merasa paling benar."

"Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Kereta pun tak ku sadari sudah datang menghampiri aku dan juga orang lain disekitarnya. Ku tapaki kaki ku dengan perlahan ke dalam gerbong. Ku ayunkan kaki ini perlahan-lahan. Ku dudukan tubuh ku ke kursi. Seketika pikiran ku pun menjadi kacau kembali. Seperti hilang arah, entah aku ini mau kemana, berhenti atau melanjutkan 'perjalanan' ini. Aku tidak tahu.

Love at the first sight, kata-kata yang di ucapkan oleh temannya yang membuat ku menjadi berpikir yang pada awalnya tidak percaya dengan kata-kata itu. "Tapi kalau memang ini cinta pada pandangan pertama, kenapa aku harus sampai memperjuangkan dia? Bukan kah cinta itu mudah dipatahkan? Lalu, kalau sudah dipatahkan kenapa bisa cinta itu utuh kembali? Apa yang membuat nya utuh kembali?"



To be continued . . .